RSS

MAKALAH ISBD (MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK BUDAYA SERTA MANUSIA SEBAGAI INDIVIDU DAN MAKHLUK SOSIAL)

 MAKALAH ISBD (MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK BUDAYA SERTA MANUSIA SEBAGAI INDIVIDU DAN MAKHLUK SOSIAL) 

KATA PENGANTAR
Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin, segala puji bagi Allah yang telah memberikan kekuatan dan kemampuan sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah Ilmu Sosial Dasar (ISD) yang berjudul “MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK BUDAYA SERTA MANUSIA SEBAGAI INDIVIDU  DAN MAKHLUK SOSIAL”.
Selawat dan salam semoga tetap tercurah bagi janjungan Alam Nabi kita Muhammad SAW, beserta segenap sahabat dan keluarganya, serta para pengikutnya yang setia sehingga hari akhir nanti.
Keberadaan karya ilmiah yang disebut dengan makalah ini dihadapan pembaca merupakan sebuah tugas beban studi sebagai tugas yang harus diselesaikan oleh setiap mahasiswa dari sebuah lembaga pendidikan, oleh karena itu jauh dari prasangka dan praduga kalau keberadaannya untuk mengkritik kinerja dosen yang selama ini telah banyak menyumbang ilmu pengetahuan kepada penulis. Disamping sebagai tugas, pembuatan  makalah ini juga merupakan proses pengalaman penambahan wawasan dan pengetahuan bagi penulis untuk meniliti jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Dalam penyusun makalah ini penulis banyak mendapati kesulitan-kesulitan faktor utama dikarenakan keterbatasan ilmu dan wawasan yang penulis miliki, disamping itu keterbatasan dana juga ikut mempengaruhi proses penyusunannya.
Namun berkat ketekunan dan kesabaran serta bantuan dan dukungan dari berbagai pihak akhirnya penulis dapat juga menyelesaikannya, dari itu penulis sangat berterima kasih kepada pihak-pihak yang telah turut serta membantu penulis dalam menyelesaikan makalah ini.
Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ribuan terimakasih yang tak terhingga kepada :
  • Ayahanda dan Ibunda penulis yang telah memberikan dorongan (motivasi) moril, materil, maupun spiritual.
  • Bapak Fuadi, S.Ag., M.Ag yang telah berperan penting dalam menyelesaikan makalah ini sebagai pembimbing.
  • Kepada teman-teman yang telah banyak memberikan solusi dan motivasi kepada penulis.
Semoga Allah SWT memberikan yang berlipat ganda kebaikan kepada mereka yang berjasa membantu penulis dalam menyelesaikan makalah ini.


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Manusia sebagai makhluk budaya yang berkemampuan menciptakan kebaikan, kebenaran, keadilan, dan bertanggung jawab. Sebagai makhluk berbudaya, manusia mendayagunakan akal budinya untuk menciptakan kebahagiaan, baik bagi dirinya maupun bagi masyarakat demi kesempurnaan hidupnya. Sebagai makhluk berbudaya, manusia menciptakan kebudayaan.
Hakikat manusia baik sebagai makhluk pribadi maupun makhluk sosial. Pada hakikatnya manusia bisa dilihat sebagai makhluk pribadi, sedangkan di sisi lain dipandang sebagai makhluk sosial. Paham individualisme memandang bahwa manusia semata-semata sebagai makhluk pribadi dengan mengesampingkan kodratnya sebagai makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial, manusia akan berinteraksi dengan manusia lain  dalam wujud interaksi sosial.  Sebagai makhluk pribadi dan sosial manusia akan menghadapi dilema dalam kerangka pemenuhan kebutuhan antara kepentingan diri dan kepentingan masyarakat.
Dengan demikian dapat kita katakan bahwa kualitas manusia pada suatu Negara akan menentukan kualitas kebudayaan dari suatu Negara tersebut, begitu pula pendidikan yang tinggi  akan menghasilkan kebudayaan yang tinggi. Karena kebudayaan adalah hasil dari pendidikan suatu bangsa.
     B.  Tujuan Penulisan
            Adapun tujuan dari makalah ini adalah :
1.         Pembaca diharapkan mampu mengetahui pengertian manusia dan budaya.
2.         Mengetahui tentang memanusiakan manusia melalui pemahaman   konsep-konsep dasar manusia.
3.         Mengetahui tentang problematika kebudayaan.
4.         Serta mengetahui hakikat manusia sebagai individu dan makhluk sosial.

C.    Manfaat Penulisan
            Adapun manfaat dari penulisan makalah ini ialah :
1.      Mampu menjelaskan pengertian manusia dan budaya.
2.      Mampu menunjukkan sikap hormat dan menghargai sesama manusia.
3.      Memberikan contoh problema kebudayaan dewasa ini.
4.      Menganalisis hakikat manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial.


BAB II
PEMBAHASAN
MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK BUDAYA
SERTA MANUSIA SEBAGAI INDIVIDU DAN MAKHLUK SOSIAL

A. Pengertian Manusia dan Budaya
Secara bahasa manusia berasal dari kata “manu” (Sanskerta), “mens” (Latin), yang berarti berpikir berakal budi atau makhluk yang berakal budi. Secara istilah manusia dapat diartikan sebuah gagasan atau realitas, sebuah kelompok (genus) atau seorang individu.
Dalam hubungannya dengan lingkungan, manusia merupakan suatu organisme hidup (living organisme). Terbentuknya pribadi  seseorang dipengaruhi oleh lingkungan bahkan secara ekstrim   dapat dikatakan, setiap orang berasal dari satu lingkungan, baik lingkungan vertical (genetika, tradisi), horizontal (geografik, fisik, sosial), maupun kesejarahan. Oleh karena itu lingkungan mempunyai pengaruh besar terhadap manusia itu sendiri.
Kata budaya merupakan bentuk majemuk kata budi-daya yang berarti cipta, karsa, dan rasa. Sebenarnya kata budaya hanya dipakai sebagai singkatan kata kebudayaan, yang berasal dari Bahasa Sangsekerta budhayah yaitu bentuk jamak dari budhi yang berarti budi atau akal. Budaya atau kebudayaan dalam Bahasa Belanda di istilahkan dengan kata culturur. Dalam bahasa Inggris culture. Sedangkan dalam bahasa Latin dari kata colera. Colera berarti mengolah, mengerjakan, menyuburkan, dan mengembangkan tanah (bertani). Kemudian pengertian ini berkembang dalam arti culture, yaitu sebagai segala daya dan aktivitas manusia untuk mengolah dan mengubah alam.
Definisi budaya dalam pandangan Ahli-ahli antropologi merumuskan definsi budaya sebagai berikut:
1.      Linton: 1940, mengartikan budaya dengan: Keseluruhan dari pengetahuan, sikap dan pola perilaku yang merupakan kebiasaan yang dimiliki dan diwariskan oleh anggota suatu masyarakat tertentu.
2.      Kluckhohn dan Kelly: 1945 berpendapat bahwa budaya adalah: Semua rancangan hidup yang tercipta secara historis, baik yang eksplisit maupun implisit, rasional, irasional, yang ada pada suatu waktu, sebagai pedoman yang potensial untuk perilaku manusia.
Berdasarkan definisi para ahli tersebut dapat dinyatakan bahwa unsur belajar merupakan hal terpenting dalam tindakan manusia yang berkebudayaan. Hanya sedikit tindakan manusia dalam rangka kehidupan bermasyarakat yang tak perlu dibiasakan dengan belajar.
Selain itu terdapat tiga wujud kebudayaan yaitu :
1. wujud pikiran, gagasan, ide-ide, norma-norma, peraturan,dan sebagainya. Wujud pertama dari kebudayaan ini bersifat abstrak, berada dalam pikiran masing-masing anggota masyarakat di tempat kebudayaan itu hidup.
2. aktifitas kelakuan berpola manusia dalam masyarakat. Sistem sosial terdiri atas aktifitas-aktifitas manusia yang saling berinteraksi, berhubungan serta bergaul satu dengan yang lain setiap saat dan selalu mengikuti pola-pola tertentu berdasarkan adat kelakuan. Sistem sosial ini bersifat nyata atau konkret.
3. Wujud fisik, merupakan seluruh total hasil fisik dari aktifitas perbuatan dan karya manusia dalam masyarakat.

B.     Memanusiakan Manusia  Melalui Pemahaman Konsep-konsep Dasar Manusia
1. Keadilan
Berbagai pendapat tentang keadilan , diantaranya:
1)      Aristoteles : keadilan adalah suatu kelayakan dalam tindakan manusia.
 Kelayakan disini adalah sebagai titik tengah antara kedua ujung
 ekstrim, baik yang menyangkut dua orang atau dua benda.
2) Plato : keadilan merupakan kewajiban tertinggi dalam kehidupan negara yang baik. Sedangkan orang yang adil adalah orang yang mampu mengendalikan diri, perasaan dikendalikan oleh akal sehat.
3) Ensiklopedia Indonesia : adil adalah tidak berat sebelah atau tidak memihak salah satu pihak. Adil memberikan sesuatu kepada setiap orang sesuai dengan hak yang harus diperolehnya. Orang yang bersikap adil, kebalikan dari fasiq. Adil adalah sendi pokok dalam persoalan hukum.

2. Penderitaan
Derita artinya menanggung atau merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Penderitaan itu dapat lahir atau batin. Yang tertmasuk penderitaan antara lain : keluh kesah, kesengsaraan, kelaparan, kekenyangan, kepanasan dan sebagainya. Dalam Al-quran kitab suci agama islam banyak surat atau ayat yang menguraikan penderitaan yang dialami manusia itu merupakan peringantan bagi manusia akan adanya penderitaan.
Tetapi umumnya manusia kurang memperhatikan peringatan tersebut sehingga manusia mengalami penderitaan, penderitaan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, karena setiap orang akan atau pernah mengalami penderitaan. Dengan mempelajari berbagai kasus penderitaan manusia berarti telah mempelajari sikap, nilai, harga diri, ketamakan, kesombongan dan sebagainya yang mana semuanya dapat bermanfaat untuk memperdalam dan memperluas persepsi, tanggapan, wawasan dan penalaran bagi yang mempelajarinya.
Upaya preventif dalam penderitaan adalah dengan proses introspeksi dan berkpribadian psikologis yang sehat, dan selalu ingat kepada Sang Pencipta.

3. Kasih sayang
Dalam kamus Umum Bahasa Indonesia karangan W.J.S Purwodarminto, kasih sayang diartikan dengan perasaan sayang, perasaan cinta atau perasaan suka kepada seseorang. Ada berbagai bentuk kasih sayang, bentuk itu sesuai dengan kondisi penyayang dan yang disayangi. Kasih sayang dialami oleh setiap manusia, karena kasih sayang merupakan bagian hidup manusia. Sejak lahir anak telah mengenal kasih sayang, meskipun ada pula kelahiran anak yang tidak diharapkan, namun hal itu termasuk pengecualian.
Kasih sayang bila diakhiri dengan perkawinan, maka dalam rumah tangga keluarga muda itu bukan lagi bercinta-cintaan, tetapi sudah bersifat kasih mengasihi atau saling menumpahkan kasih sayang. Dalam kehidupan berumahtangga kasih sayang merupakan kunci kebahagiaan. Zaman sekarang ini banyak orang merasakan bahwa kebahagiaan adalah suatu keadaan abstrak yang sulit dicapai. Sebetulnya masih ada banyak jalan untuk menemukan kebahagiaan, atau setidaknya untuk mengurangi pukulan badai kehidupan. Memang seringkali manusia tidak dapat lolos dari kesulitan sosial ekonomi. Namun dengan membangun kasih sayang yang erat dalam keluarga, maka setidak-tidaknya kita mempunyai suatu tempat yang damai, teduh ditengah kemelutnya persoalan hidup.
Jadi memanusiakan manusia memberi keuntungan bagi diri sendiri maupun orang lain. Bagi diri sendiri akan menunjukkan harga diri dan nilai luhur pribadinya sebagai manusia. Sedangkan bagi orang lain akan memberikan rasa percaya, rasa hormat, kedamaian, dan kesejahteraan hidup.

C.    Problematika Kebudayaan
Beberapa Problematika Kebudayaan antara lain :
1.      Hambatan budaya yang berkaitan dengan pandangan hidup dan sistem kepercayaan.
Contohnya : Keterkaitan orang Jawa terhadap tanah yang mereka tempati secara turun-temurun diyakini sebagai pemberi berkah kehidupan. Mereka enggan meninggalkan kampung halamannya atau beralih pola hidup sebagai petani. Padahal hidup mereka umumnya miskin.
2.      Hambatan budaya yang berkaitan dengan perbedaan persepsi atau sudut pandang ini dapat terjadi antara masyarakat dan pelaksana pembangunan.
Contohnya : program Keluarga Berencana atau KB semua ditolak masyarakat, mereka beranggapan bahwa banyak anak banyak rezeki.
3.      Hambatan budaya yang berkaitan dengan factor psikologi atau kejiwaan.
Contohnya : Upaya untuk mentransmigrasikan penduduk dari daerah yang terkena bencana alam banyak mengalami kesulitan. Hal ini disebabkan karena adanya kekhawatiran penduduk bahwa di tempat yang baru hidup mereka akan lebih sengsara dibandingkan dengan hidup mereka di tempat yang lama.
4.      Masyarakat yang terasing dan kurang komunikasi dengan masyarakat luar.
Contohnya : Masyarakat  daerah-daerah terpencil yang kurang komunikasi dengan masyarakat luar, karena pengetahuannya terbatas, seolah-seolah tertutup untuk menerima program-program pembangunan.
5.      Sikap tradisionalisme yang berprasangka buruk terhadap hal-hal baru.
Contohnya : Sikap ini sangat mengagung-agungkan budaya tradisional sedemikian rupa, yang menganggap hal-hal baru itu akan merusak  tatanan hidup mereka yang sudah mereka miliki secara turun-temurun.
6.      Sikap Etnosentrisme
Sikap etnosentrisme adalah sikap yang mengagungkan budaya suku bangsanya sendiri dan menganggap rendah budaya suku bangsa lain. Sikap semacam ini akan mudah memicu timbulnya kasus-kasus pertentangan  suku, agama, ras, dan antargolongan.
Contohnya : Kebudayaan yang berkembang dalam suatu wilayah seperti Indonesia sebagai Negara kepulauan kepulauan yang terdiri dari beberapa suku bangsa dan budaya yang beraneka ragam. Masing-masing kebudayaan itu dianggap sebagai satu ciri khas daerah lokal. Yang terkadang justru menimbulkan sikap etnosentrisme pada anggota masyarakat dalam memandang kebudayaan orang lain. Sikap etnosentrisme dapat menimbulkan kecenderungan perpecahan dengan sikap kelakuan yang lebih tinggi terhadap budaya lain.
7.      Perkembangan IPTEK sebagai hasil dari kebudayaan, sering kali disalahgunakan oleh manusia.
Contohnya : Nuklir dan bom dibuat justru untuk menghancurkan manusia bukan untuk melestarikan suatu generasi, obat-obatan diciptakan untuk kesehatan tetapi dalam penggunaannya banyak disalahgunakan yang justru mengganggu kesehatan manusia.

D.    Hakikat Manusia sebagai Individu dan Makhluk Sosial   
a.      Manusia sebagai Individu
           Dalam bahasa Latin individu berasal dari kata individuum, artinya yang tak terbagi. Dalam bahasa inggris Individu berasal dari kata in dan divided. Kata in salah satunya mengandung pengertian tidak, sedangkan divided artinya terbagi.
Jadi individu artinya tidak terbagi, atau suatu kesatuan.
Manusia sebagai makhluk individu memiliki unsur jasmani dan rohani, unsur fisk dan psikis, unsur raga dan jiwa. Seseorang dikatakan sebagai manusia individu manakala unsur-unsur tersebut menyatu dalam dirinya. Jika unsur tersebut tidak menyatu lagi maka seseorang tidak disebut lagi sebagai individu. Dalam diri individu  ada unsur jasmani dan rohaninya.
Jadi pengertian manusia sebagai makhluk individu mengandung arti bahwa unsur yang ada dalam diri individu tidak terbagi, merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Jadi sebutan individu hanya tepat bagi manusia yang memiliki keutuhan jasmani dan rohaninya.
Setiap manusia memiliki keunikan atau ciri khas tersendiri, tidak ada manusia yang persis sama. Dari sekian banyak manusia, ternyata masing-masing memiliki keunikan tersendiri. Sekalipun orang itu terlahir secara kembar, mereka tidak ada yang memiliki ciri fisik dan psikis yang persis sama. Setiap anggota fisik manusia tidak ada yang persis sama, meskipun sama-sama terlahir sebagai manusia kembar.
Walaupun secara umum manusia itu memiliki perangkat fisik yang sama, tetapi kalau perhatian kita tujukan pada hal yang lebih detail, maka akan terdapat perbedaan-perbedaan. Perbedaan itu terletak pada ukuran, bentuk, sifat, dan lain-lainnya. Kita dapat membedakan seseorang dari lainnya berdasarkan fisik maupun psikis. Contohnya : dalam kumpulan atau kerumunan ribuan atau jutaan manusia, kita tetap mengenali seseorang yang sudah kita kenal karena mermiliki ciri fisik yang sudah kita kenal.
Ciri seorang individu tidak hanya mudah dikenali lewat ciri fisik atau biologisnya. Sifat, karakter, atau gaya dan selera orang juga berbeda-beda. Seorang individu adalah perpaduan antara faktor genotipe dan fenotipe. Faktor genotipe adalah faktor keturunan yang dibawa individu sejak lahir. Secara fisik seseorang memikliki kemiripan atau kesamaan ciri dari orang tuanya, kemiripan atau persamaan itu mungkin saja terjadi pada keseluruhan penampilan fisiknya, bias juga terjadi pada bagian-bagian tubuh tertentu saja. Kita bisa melihat secara fisik bagian tubuh dari kita yang memiliki kemiripan dengan orang tua kita. Ada bagian tubuh kita yang mirip ibu atau ayah, begitu pula mengenai sifat atau karakter kita ada yang mirip seperti ayah dan ibu.
Kalau seoarang individu memiliki ciri fisik dan karakter  atau sifat yang dibawa sejak lahir, ia juga memiliki ciri fisik dan karakter yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Faktor lingkungan ikut berperan dalam pembentukan karakteristik yang khas dari seseorang. Istilah lingkungan merujuk pada lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Lingkungan fisik seperti kondisi alam sekitarnya, baik itu lingkungan buatan seperti tempat tinggal (rumah), dan lingkungan yang bukan buatan seperti kondisi alam geografis dan iklimnya.
Lingkungan sosial, merujuk pada lingkungan di mana seorang individu melakukan interaksi sosial. Kita melakukan interaksi sosial dengan anggota keluarga, teman, dan kelompok sosial lain yang lebih besar. Contohya : seseorang yang sehari-harinya bergaul dengan lingkungan temannya berada di pesantren, memiliki kebiasaan yang khas bagi kelompoknya.
Karakteristik yang khas dari seseorang ini sering disebut dengan kepribadian. Menurut Nursyid Sumaatmadja, kepribadian adalah keseluruhan perilaku individu yang merupakan hasil interaksi antara potensi-potensi biopsikofisikal (fisik dan psikis) yang terbawa sejak lahir dengan rangkaian situasi lingkungan, yang terungkap pada tindakan dan perbuatan serta reaksi mental psikologisnya, jika mendapat rangsangan dari lingkungannya.

b.      Manusia sebagai Makhluk Sosial
Selama manusia hidup ia tidak akan lepas dari pengaruh
masyarakat, di rumah, di sekolah, dan di lingkungan yang lebih
 besar manusia tidak terlepas dari pengruh orang lain. Oleh karena
itu manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, yaitu makhluk
yang di dalam hidupnya tidak bisa melepaskan diri dari pengaruh manusia lain.
Dalam konteks sosial disebut masyarakat, setiap orang akan mengenal oramg lain oleh karena itu perilaku manusia selalu terkait dengan orang lain. Perilaku manusia dipengaruhi orang lain, ia melakukan sesuatu dipengaruhi faktor dari luar dirinya, seperti tunduk pada aturan, tunduk pada norma masyarakat, dan keinginan mendapat respons positif dari orang lain (pujian).
Manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, dikarena pada diri manusia ada motivasi untuk berhubungan (interaksi) dengan orang lain. Ada kebutuhan sosial (social need) untuk hidup berkelompok dengan orang lain. Manusia memiliki kebutuhan untuk mencari kawan. Kebutuhan untuk berteman dengan orang lain, sering kali didasari atas kesamaan ciri atau kepentingannya masing-masing. Misalnya, orang kaya cenderung berteman lagi dengan orang kaya. Dengan demikian, akan terbentuk kelompok-kelompok sosial dalam masyarakat yang didasari oleh kesamaan ciri atau kepentingan.
Manusia dikatakan juga sebagai makhluk sosial, karena manusia tidak akan bisa hidup sebagai manusia kalau tidak hidup di tengah-tengah manusia. Ketika bayi lahir, ia memerlukan pertolongan manusia lainnya. Bayi sama sekali tidak berdaya ketika ia lahir, ia tidak bisa mempertahankan hidupnya tanpa pertolongan orang lain. Berbeda dengan hewan, jerapah misalnya, ketika binatang ini lahir hanya dalam hitungan menit ia sudah bisa berdiri tegak dan berjalan mengikuti induknya. Kenapa Karena untuk mempertahankan hidupnya hewan dibekali dengan insting. Insting atau naluri adalah sesuatu yang dibawa sejak lahir, yang diperoleh bukan melalui proses belajar.
Tanpa bantuan manusia lainnya, manusia tidak mungkin bisa berjalan dengan tegak. Dengan bantuan orang lain, manusia bisa makan menggunakan tangan, bisa berkomunikasi atau bicara, dan bisa mengembangkan seluruh potensi kemanusiaannya.


BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari sekian banyak uraian diatas, maka penulis bisa mengambil kesimpulan yaitu :
Ø  manusia dapat diartikan sebuah gagasan atau realitas, sebuah kelompok (genus)atau seorang individu.
Ø  Budaya adalah: Suatu keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, kesusilaan, hukum, adat istiadat, serta kesanggupan dan kebiasaan lainnya yang dipelajari manusia sebagai anggota masyarakat.
Ø  Keadilan adalah tidak berat sebelah atau memihak salah satu pihak. Derita artinya menanggung atau merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Kasih sayang diartikan dengan perasaan sayang. Jadi memanusiakan manusia memberi keuntungan bagi diri sendiri maupun orang lain.
Ø  manusia sebagai makhluk individu mengandung arti bahwa unsur yang ada dalam diri individu tidak terbagi, merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
Ø  Manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, dikarena pada diri manusia ada motivasi untuk berhubungan (interaksi) dengan orang lain.

B. SARAN-SARAN
Dalam penulisan makalah ini penulis ingin menyarankan kepada pembaca diantaranya sebagai berikut :
Ø  Jadikanlah makalah ini sebagai pedoman untuk meningkatkan motivasi belajar yang lebih tinggi lagi.
Ø  Khususnya bagi generasi muda adalah calon sarjana, jadi anda harus mempunyai wawasan yang luas dan berintelektual tinggi.
Ø  Sebaiknya pembaca lebih banyak mempelajari tentang manusia sebagai makhluk budaya, serta manusia sebagai individu dan makhluk sosial. Lebih banyak mempelajari maka akan lebih menguasai tentang manusia sebagai makhluk budaya , serta manusia sebagai individu dan makhluk sosial. Amin Ya Rabbal ‘Alamiin…       

                                              
DAFTAR PUSTAKA

Dra. Elly M. Setiady, M.Si,  Drs. H. Kama A. Hakam, M.Pd. 2008. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar.  Jakarta: Kencana.

A.A. Sitompul.1993. Manusia dan Budaya, Jakarta: Gunung Mulia.




FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN INFORMATIKA
UNIVERSITAS MALIKUSSALEH


Eva Rahayu





  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

4 comments:

Zeon ueraixa said...

すごいね

Eva rahayu said...

なん, セ゛オン さん?
私は わかりません....

Sri Mahdaniyar said...

Eva, contoh makalah sistem terdistribusi tentang INHERENT ada?

Rahmat Hidayat said...

TERIMAKASIH YA MAKALAH NYA,,BAGUS

Post a Comment